Pendidikan tinggi Islam diminta melahirkan lulusan profesional berintegritas dan beretika untuk menjawab tantangan global dan krisis moral. foto: Dok Kemenag

Pendidikan Tinggi Islam Diminta Cetak Profesional Berintegritas di Tengah Tantangan Global

Katalisinfo.com, Ciputat – Pendidikan tinggi keislaman memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara etika dan spiritual. Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Ahmad Tholabi Kharlie, dalam orasi ilmiah pada Wisuda Sarjana STAI Muslim Asia Afika, Minggu (11/1/2026), di Ciputat.

Dalam orasi bertajuk “Memberdayakan Lulusan Muslim Beretika dan Profesional Berlandaskan Nilai Islam dalam Masyarakat Global”, Prof. Tholabi menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh direduksi menjadi sekadar mesin pencetak tenaga kerja.

“Pendidikan adalah proses pembentukan manusia seutuhnya, bukan hanya penguasaan keterampilan teknis,” ujarnya di hadapan para wisudawan dan orang tua.

Menurut Guru Besar UIN Jakarta tersebut, pandangan ini sejalan dengan pemikiran filsuf pendidikan John Dewey yang menyatakan bahwa pendidikan bukan persiapan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Dalam perspektif Islam, tujuan pendidikan adalah melahirkan al-insan al-kamil, manusia berilmu yang berakhlak dan bertanggung jawab secara sosial.

Prof. Tholabi juga menyoroti paradoks kemajuan global. Mengutip sosiolog Ulrich Beck, ia menyebut masyarakat modern sebagai risk society, di mana kemajuan justru melahirkan berbagai risiko baru, termasuk krisis etika dan moral.

“Risiko hari ini bukan hanya soal ekonomi dan lingkungan, tetapi juga krisis nilai dan etika,” katanya.

Ia menambahkan, filsuf Charles Taylor juga mengingatkan adanya krisis makna dalam modernitas. Banyak individu yang berhasil secara material, namun mengalami kehampaan batin dan kehilangan orientasi nilai. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi Islam dituntut hadir sebagai penopang moral dan penjaga makna hidup.

Krisis etika, lanjut Prof. Tholabi, sangat terasa di dunia profesional. Praktik manipulasi, korupsi, dan penyalahgunaan wewenang kerap dibenarkan atas nama efisiensi dan persaingan. Karena itu, lulusan perguruan tinggi, termasuk PTKI, akan berhadapan dengan pilihan-pilihan moral yang menentukan integritas pribadinya.

Dalam Islam, kerja tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ibadah dan amanah. Profesionalisme harus berjalan seiring dengan niat yang lurus, kejujuran, serta tanggung jawab. Menurutnya, kecakapan tanpa etika berpotensi melahirkan kerusakan, sementara etika tanpa kompetensi akan kehilangan daya guna.

Tantangan tersebut semakin kompleks di era disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan. Efisiensi dan kecepatan kerap berbenturan dengan nilai keadilan dan empati. Prof. Tholabi menekankan bahwa sarjana Muslim harus technology-ready sekaligus ethically grounded, dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kompas dalam pengambilan keputusan profesional.

Ia mengingatkan agar pendidikan tinggi keislaman tidak terjebak pada orientasi pasar semata. “Akreditasi, peringkat, dan daya saing itu penting, tetapi misi etik tidak boleh ditinggalkan,” tegasnya.

Menutup orasinya, Prof. Tholabi menegaskan bahwa pemberdayaan lulusan Muslim yang beretika dan profesional merupakan kebutuhan strategis bangsa. Ia berharap para wisudawan STAI Muslim Asia Afika mampu tampil sebagai agen moral yang berdaya saing global tanpa kehilangan integritas.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan orang pintar yang jujur dan berani menjaga nilai,” pungkasnya.

sumber: Kemenag

About KatalisInfo

Check Also

Bali United vs Malut United: Waspadai Teppei Yachida, Laga Krusial Pekan 28 BRI Super League

Katalisinfo.com, GIANYAR – Laga pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026 antara Bali United FC melawan …