Perilaku Gen Z hari ini: terlihat sangat aktif ber interaksi dan exsploitasi diri di dunia Maya, tapi terlihat lemah lunglai di dunia Nyata Foto: Ilustrasi gen Z

Gen Z 2026: Produktif di Dunia Maya, Kelelahan di Dunia Nyata

.

Jakarta, Katalisinfo.com

Memasuki tahun 2026, Generasi Z kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan karena tren media sosial terbaru, melainkan karena sebuah paradoks yang semakin nyata: Gen Z dinilai sebagai generasi paling adaptif terhadap teknologi, namun juga paling cepat merasa lelah, bahkan sebelum hari kerja benar-benar dimulai, catat katalisinfo.com.

Laporan terbaru dari Lembaga Pengamatan Perilaku Digital Nasional (LPPDN) menyebutkan bahwa Gen Z mampu menjalani berbagai peran secara bersamaan. Mulai dari pekerja profesional, kreator konten, hingga aktivis isu sosial, semua dijalani dalam satu layar dan satu waktu.

“Gen Z itu sangat efisien. Mereka bisa bekerja sambil rebahan, rapat sambil mengedit video, dan menyuarakan pendapat sambil scroll,” ujar peneliti LPPDN, Rani Kusuma, kepada katalisinfo.com. Namun menurutnya, efisiensi tersebut sering dibayar mahal dengan kelelahan mental yang tidak kasat mata.

Di dunia kerja, tren quiet ambition mulai menggantikan istilah quiet quitting yang populer beberapa tahun lalu. Gen Z tetap memiliki mimpi dan target, tetapi memilih mengejarnya tanpa banyak drama, selama tidak mengorbankan kesehatan mental dan waktu istirahat.

Sejumlah perusahaan melaporkan karyawan Gen Z tetap menyelesaikan tugas tepat waktu, namun menolak lembur tanpa alasan jelas. Kalimat seperti “butuh waktu menenangkan diri” atau “sedang terlalu penuh secara mental” kini menjadi penjelasan yang semakin lazim.Pola komunikasi pun ikut berubah.

Percakapan panjang dianggap melelahkan, sementara balasan singkat berupa emoji, stiker, atau sekadar “hehe” dinilai sudah cukup mewakili empati dan kehadiran emosional. Pakar sosiologi digital, Bima Hartanto, menilai fenomena ini sebagai bentuk adaptasi terhadap era informasi yang serba cepat.

“Di tengah banjir notifikasi dan tuntutan sosial, bertahan dengan kondisi mental yang stabil saja sudah merupakan capaian,” katanya.

Meski kerap dicap sensitif, data menunjukkan Gen Z justru lebih terbuka membicarakan kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Sayangnya, keterbukaan ini masih sering disalahpahami sebagai keluhan berlebihan.

Survei yang sama juga mencatat mayoritas Gen Z tetap optimistis menatap masa depan. Dengan satu catatan penting: masa depan tersebut harus menyediakan fleksibilitas, koneksi internet yang stabil, dan hak untuk tidak selalu terlihat baik-baik saja.

Dengan segala paradoks yang melekat, Gen Z di tahun 2026 tampaknya tidak berlomba menjadi generasi paling kuat atau paling ambisius. Seperti dirangkum katalisinfo.com, mereka hanya ingin hidup cukup, tetap waras, dan (jika memungkinkan) tidur delapan jam sehari

 

About KatalisInfo

Check Also

Delegasi Kemenlu Pelajari Investasi dan Kawasan Industri Terintegrasi di Gresik

Katalisinfo.com, Gresik – Pemerintah Kabupaten Gresik menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi peserta Pendidikan dan Pelatihan …