Program Inkubasi Wakaf Kemenag sukses mengembangkan Joglo Wakaf Semarang menjadi model pertanian terpadu zero waste dengan dampak ekonomi, edukasi, dan lingkungan. Foto : Istimewa

Program Inkubasi Wakaf Kemenag Sukses Kembangkan Joglo Wakaf Semarang Jadi Model Integrated Farming Zero Waste

JAKARTA, KATALIS INFO — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menegaskan komitmennya mendorong pemberdayaan umat melalui Program Inkubasi Wakaf Produktif. Program ini terbukti mengakselerasi pengembangan Joglo Wakaf Ziswaf Masjid Pelajar Semarang, yang kini tumbuh menjadi model Integrated Farming Zero Waste dengan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.

Joglo Wakaf sebelumnya mengelola sejumlah unit usaha—mulai dari pengolahan kompos, pembibitan kopi, pepaya, dan alpukat, hingga budidaya melon, selada, dan lele. Namun keterbatasan modal dan akses pasar sempat menjadi hambatan. Kondisi ini berubah setelah mereka masuk ke Program Inkubasi Wakaf Produktif 2025.

“Masuknya kami ke Program Inkubasi Wakaf Produktif menjadi titik balik. Kemenag memberi akses permodalan dan membuka pintu ke jaringan mitra strategis nasional. Ini bukan hanya bantuan, tetapi dukungan nyata negara dalam membangun ekonomi umat,” kata Suharto, tokoh kunci Joglo Wakaf, Selasa (18/11/2025) di Jakarta.

Akselerasi Produksi dan Akses Pasar

Dampak terbesar terasa pada sektor hortikultura. Produksi selada kini meningkat hingga 50 kg per hari, sementara pokcoy mencapai 150 kg per minggu. Hasil panen tidak hanya dijual di lingkungan sekitar, tetapi sudah masuk ke jaringan catering, Superindo, dan Istana Buah.

Dampak Berlipat: Edukasi, Lingkungan, dan Penerima Manfaat

Joglo Wakaf juga berkembang menjadi pusat edukasi pertanian organik. Setiap tahun, puluhan pelajar dan mahasiswa melakukan praktik dan studi banding di lokasi. Mereka juga aktif mendampingi petani organik, termasuk mendukung berdirinya KWT Tani Kita Jaya dan menginisiasi Asosiasi Juragan Organik Semesta (AJOS).

Pada aspek penerima manfaat langsung, keuntungan wakaf produktif telah dikembalikan kepada masyarakat melalui program sosial. “Kami memberikan beasiswa sekolah digital untuk 12 anak, beasiswa bagi dua mahasiswa, serta pembiayaan operasional Rumah Qur’an Masjid Pelajar yang menampung lima anak,” jelas Suharto.

Integrasi Zero Waste untuk Lingkungan Berkelanjutan

Konsep zero waste menjadi fokus utama Joglo Wakaf. Limbah pertanian diolah menjadi pakan ternak ramah lingkungan yang mampu mengurangi emisi karbon dan bau amonia di peternakan. Mereka juga aktif melestarikan hutan dan sumber air dengan menanam kopi dan alpukat di lahan kritis.

“Kami menjalankan pertanian organik yang benar-benar ramah lingkungan. Semua limbah kembali dimanfaatkan. Ini membantu konservasi dan meningkatkan kualitas ekosistem,” ujar Suharto.

Penguatan Kelembagaan Nadzir

Suharto menyampaikan apresiasinya atas fasilitasi Sertifikasi Nadzhir Wakaf dari Kemenag. Menurutnya, sertifikasi ini sangat penting sebagai penguatan kapasitas kelembagaan. Ia berharap lebih banyak inisiatif wakaf produktif di Indonesia dapat terintegrasi dalam ekosistem program Kemenag.

“Harapan kami, semakin banyak gerakan wakaf produktif yang bersinergi dengan Kemenag untuk memberi manfaat lebih luas bagi umat,” pungkasnya.

Sumber : Kemenag

About KatalisInfo

Check Also

Delegasi Kemenlu Pelajari Investasi dan Kawasan Industri Terintegrasi di Gresik

Katalisinfo.com, Gresik – Pemerintah Kabupaten Gresik menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi peserta Pendidikan dan Pelatihan …