ritual berjalan di antara dua pohon beringin kembar yang dikenal dengan sebutan Masangin.

Tradisi “Masangin” di Alun-Alun Kidul, Ritual Unik yang Masih Digemari Anak Muda dan Wisatawan

Yogyakarta – Katalisinfo.com

Kawasan Alun-Alun Kidul Yogyakarta atau yang akrab disebut Alkid menjadi salah satu tempat favorit bagi anak muda, mahasiswa, hingga wisatawan yang berkunjung ke Kota Gudeg. Selain dikenal sebagai ruang publik untuk berkumpul dan bersantai, tempat ini juga memiliki tradisi unik yang masih sering dilakukan hingga kini, yaitu ritual berjalan di antara dua pohon beringin kembar yang dikenal dengan sebutan Masangin.
Masangin merupakan singkatan dari “masuk di antara beringin”, yaitu aktivitas berjalan lurus menuju celah di antara dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Ritual ini biasanya dilakukan dari jarak beberapa meter dengan harapan dapat melewati tepat di tengah kedua pohon tersebut. Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, siapa pun yang berhasil melakukannya dipercaya memiliki hati yang bersih atau bahkan keinginannya dapat terkabul.

Dua pohon beringin yang menjadi pusat ritual ini berada di tengah lapangan Alun-Alun Kidul dan sering disebut sebagai ringin kurung. Keberadaan pohon ini telah lama menjadi simbol penting dalam budaya Jawa. Dalam filosofi Jawa, pohon beringin melambangkan pengayoman, kekuatan, dan perlindungan bagi masyarakat.
Liputan6

Berawal dari Tradisi Keraton
Sejarah Masangin tidak lepas dari masa kejayaan Kesultanan Yogyakarta. Tradisi ini awalnya berkaitan dengan ritual Topo Bisu, yaitu prosesi para prajurit dan abdi dalem yang berjalan mengelilingi benteng Keraton pada malam 1 Suro dalam keadaan diam. Setelah prosesi tersebut, mereka melewati dua pohon beringin kembar di Alun-Alun Kidul sebagai simbol mencari berkah dan perlindungan dari ancaman musuh.

Selain sebagai bagian dari ritual spiritual, alun-alun ini pada masa lalu juga digunakan sebagai tempat latihan para prajurit Keraton. Berjalan di antara dua pohon beringin dengan mata tertutup dipercaya menjadi latihan konsentrasi bagi para prajurit.
KOMPAS.com

Seiring perkembangan zaman, makna sakral dari ritual tersebut perlahan bergeser. Kini Masangin lebih sering dianggap sebagai permainan atau atraksi wisata yang menarik bagi masyarakat dan wisatawan yang datang ke Yogyakarta.
detikTravel

Tempat Nongkrong Favorit Anak Muda
Pada malam hari, suasana Alun-Alun Kidul berubah menjadi kawasan yang ramai oleh pengunjung. Anak muda, mahasiswa, keluarga, hingga wisatawan domestik maupun mancanegara sering berkumpul di area ini untuk bersantai, menikmati jajanan, atau sekadar berbincang bersama teman dan kerabat.

Banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk menikmati suasana malam di Jogja, tetapi juga mencoba peruntungan melakukan Masangin. Tidak sedikit yang gagal melewati celah di antara kedua beringin tersebut, bahkan setelah mencoba berkali-kali. Hal ini justru menambah daya tarik tersendiri dan membuat banyak orang penasaran untuk kembali mencoba.
KOMPAS.com

Kini, Alun-Alun Kidul tidak hanya menjadi ruang publik untuk bersantai, tetapi juga menjadi simbol perpaduan antara tradisi, mitos, dan kehidupan modern di Yogyakarta. Tradisi Masangin pun tetap bertahan sebagai bagian dari cerita budaya yang terus menarik minat generasi muda dan wisatawan yang datang ke kota ini.

About KatalisInfo

Check Also

KemenHAM Perkuat Kapasitas Komunitas di Gorontalo, Dorong Peran Aktif dalam Isu HAM

Katalisinfo.com, Gorontalo – Kementerian Hak Asasi Manusia melalui Kantor Wilayah Sulawesi Tengah Wilayah Kerja Gorontalo …